3 Sikap Pebisnis atas Dampak Wabah Covid-19

Wabah virus corona atau covid-19 benar-benar membuat para pebisnis di tanah air mengalami kepanikan yang sangat luar biasa. Terlebih sejak mulai diberlakukannya social distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa wilayah di Indonesia, tentunya ini akan berimbas pada penjualan dari bisnis yang mereka jalankan.

Konsultan waralaba dari International Franchise Business Management (IFBM) Burang Riyadi dalam pengamatannya menyampaikan, ada 3 sikap yang sejauh ini telah dilakukan para pebisnis di tanah air.

Sikap yang pertama adalah pebisnis yang sangat panik. Imbasnya pun langsung bereaksi terhadap pemotongan gaji pegawai, merumahkan pegawai, meminta agar tidak membayar supplier dan rekanannya dulu, dan seterusnya.

“Karena kesulitan yang terbayang oleh mereka itu seolah-olah sudah terjadi parah sekali hari ini. Padahal bulan Maret saat itu belum berakhir. Bahkan mereka mungkin saja masih mempunyai banyak tabungan untuk melakukan sesuatu,” ujar Burang dalam keterangan tertulisnya.

Kemudian untuk sikap yang kedua adalah pengusaha yang mencoba untuk bersikap profesional. Mereka mengadakan pertemuan dengan top manajemennya dan menghitung berapa kekuatan keuangan yang mereka punya.

“Bagaimana mereka bisa membuat semaksimal mungkin mempertahankan karyawan dan supplier strategisnya mereka. Bahkan karyawan diminta untuk tinggal di lantai atas outlet dan jangan pulang supaya lebih hemat. Mereka membuat strategi produk atau jasa baru yang bisa menjadi alternatif income. Mereka mempersiapkan work from home yang efektif dan terkontrol,” jelasnya.

Sementara untuk sikap yang ketiga adalah pengusaha yang sangat berorientasi sosial. Alih-alih memikirkan kondisi bisnisnya, mereka justru malah menggunakan resource-nya untuk kegiatan sosial membantu rumah sakit dan pemerintah setempat guna mengatasi kesulitan ini.

“Karyawannya diminta bersama membuat makanan yang disuplai ke rumah sakit. Ada yang memproduksi bahan bakunya menjadi masker dan APD (Alat Pelindung Diri) untuk disumbangkan. Mereka mengajak karyawannya seperti paguyuban. Senang dinikmati bersama dan susah dijalani bersama. Tentu saja pengusaha ini yang berkorban dengan tabungannya,” kata Burang.

Burang menyampaikan, hanya bisnis yang menjadi tujuan yang saat ini masih bisa bertahan, misalnya seperti supermarket, depo gas dan aqua atau pun apotek.

Selain itu, lanjut Burang, traffic bisnis yang masih berjalan di tengah pandemi ini juga ada pada bisnis online. Tujuannya, supaya brandnya tetap dinanti oleh pasar. Kemudian pebisnis juga dapat mengisi waktu dengan membuat strategi dan merapihkan manajemen. Dan yang terakhir adalah pebisnis dapat mengisi waktu dengan membuat inovasi-inovasi produk yang bisa laku dijual melalui online.

“Menurut saya mempersiapkan bisnisnya untuk franchising is not a bad idea. Sebab seperti umumnya saat krisis moneter, banyak orang kehilangan pekerjaan dan membeli franchise menjadi salah satu alternatif,” pungkas Burang.

https://www.franchiseglobal.com/3-sikap-pebisnis-atas-dampak-wabah-covid-19.phtml

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *