• 13 - 15 September 2019
  • Jakarta Convention Center

Dorong Waralaba Lokal ke Pasar Global

Kementerian Perdagangan menggelar program penjajakan kesepakatan dagang (business matching) sebagai upaya mendorong waralaba lokal untuk merambah pasar dunia.

Program ini diikuti 22 pengusaha waralaba lokal dengan 10 pengusaha Hong Kong dan berlangsung pada 4–5 November 2019 di Kementerian Perdagangan, Jakarta.

"Penyelenggaraan kegiatan ini bertujuan mendorong dan menumbuh kembangkan waralaba lokal ke mancanegara. Kegiatan ini digelar mengingat besarnya potensi dan peluang bisnis kuliner Indonesia memasuki pasar Hong Kong. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk Hong Kong dan turis yang mengunjungi Hong Kong cukup banyak jumlahnya," ujar Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Suhanto di Jakarta, Senin (4/11), dikutip dari siaran pers.

Menurut Suhanto, Hong Kong adalah mitra dagang Indonesia yang sangat potensial. Nilai perdagangan Indonesia dan Hong Kong tercatat mencapai lebih dari US$5 miliar pada 2018 dengan tren pertumbuhan positif sebesar 3,2% per tahun.

Selain kegiatan penjajakan kesepakatan dagang, juga diselenggarakan pameran waralaba di tempat yang sama. Sebanyak 22 peserta turut berpartisipasi dalam pameran ini. Para peserta tersebut, yaitu Black Kebab, Crispyku Fried Chicken, Kebab Turki Baba Rafi, Mushroom Factory, Bebek dan Ayam Goreng Pak Ndut, Warung Koffie Batavia, Coffee Toffee, Ayam Geprek Juara, dan Bakmi Naga Resto.

Selain itu, juga terdapat Quick Chicken, Bangi Coffee, Es Teler 77, Oto Bento, Camcaw, Opera Coffee, Alfamart, Nakamura, Taman Sari Royal Heritage Spa, Tirta Ayu V Spa, Bambu Spa, dan E-MAm Express Coin Laundry.

Suhanto menambahkan, melalui kewirausahaan diharapkan dapat menciptakan wirausahawan baru yang mengubah pola pikir masyarakat dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja.

"Kami juga berharap selama dua hari penyelenggaraan kegiatan ini, para peserta kegiatan mendapatkan mitra dalam negeri dan luar negeri, khususnya pengusaha Hong Kong,” pungkas Suhanto.

Bisnis waralaba terus bertumbuh di Tanah Air, tercermin dari omzet yang berhasil diraup. Ketua Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), Levita Supit, usai acara pembukaan The 17th Edition Franchise License Expo Indonesia di JCC, Jakarta, Jumat (13/9) menyebutkan omzet bisnis waralaba pada 2019 ini diperkirakan bisa terdongkrak 5% dibandingkan tahun lalu. Sepanjang tahun 2018, omzet bisnis waralaba mencapai angka Rp150 triliun.

Menurutnya, bisnis waralaba yang berkembang di tanah air didominasi oleh tiga sektor yakni food and beverages (F&B), jasa, dan ritel. Untuk F&B sendiri, kontribusinya mencapai 40%. Salah satu yang saat ini sangat kekinian adalah kedai kopi. Menurutnya, tren kedai kopi erat kaitannya dengan lifestyle masyarakat.

Sayangnya, potensi bisnis waralaba yang besar tidak disertai dengan minat pengusaha untuk mendaftarkan bisnisnya. Pasalnya, saat ini baru ada sekitar 100 merek waralaba yang mempunyai surat tanda daftar waralaba (STPW).

"Di Indonesia ada sekitar 2000-an franchise. Satu franchise punya outlet minimal 3, kalau kali 2000 saja sudah ada 6000. Tapi ada satu bisnis yang outletnya ribuan, jadi banyak sekali," ujarnya.

Dalam hal ini Kementerian Perdagangan tengah mengupayakan agar pengusaha-pengusaha waralaba mendaftarkan bisnisnya dengan STPW sebagaimana diamanatkan oleh PP Nomor 42 tahun 2007 tentang Waralaba.

WALI sendiri, lanjutnya, mendukung niat pemerintah agar semua waralaba terdaftar. Namun, pihaknya menginginkan ada aturan yang lebih disederhanakan.

Pendaftaran waralaba dinilai penting untuk menghindari penipuan. Pasalnya, terdapat temuan usaha yang bukan waralaba diklaim sebagai waralaba.

"Ini sebenarnya untuk melindungi masyarakat agar tidak tertipu," ungkapnya

https://www.validnews.id/Dorong-Waralaba-Lokal-ke-Pasar-Global-KQR


Open chat